Ilustrasi 1
Ribuan warga suku Sasak, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, menggelar budaya Bau Nyale (cacing laut), Minggu (12/02) di Pantai Kaliantan Lombok Timur dan Senin (13/2) di Pantai Aan Lombok Tengah. Ritual budaya Bau Nyale merupakan ritual adat yang selalu dilakukan masyarakat pada bulan tertentu dan tanggal tertentu sesuai dengan penanggalan masyarakat sasak. Warga meyakini bahwa Nyale merupakan jelmaan putri Mandalike (Nyale) yang dulunya di perebutkan oleh para putra raja. Nyale juga dipercaya dapat di jadikan obat, penyubur tanah dan berbagai khasiat lainnya.
Budaya penangkapan Bau Nyale, hanya berlangsung satu kali dalam setahun. Ritual tersebut diadakan di beberapa pantai di Lombok Timur dan Lombok Tengah. Penangkapan Nyale dimulai biasanya ketika air laut surut pada pukul 04.00 Dini hari hingga terbit matahari. Nyale yang tertinggal dan tak dapat ditangkap dipercaya akan hancur menjadi air laut kembali ketika matahari sudah tinggi.
Pada budaya penangkapan Bau nyale, masyarakat biasanya membawa keluarga, sanak saudara, berduyun–duyun berdatangan ke lokasi Bau Nyale. Mereka bahkan rela menginap di pinggir pantai atau di bukit-bukit yang berjejer di pinggir pantai, atau bahkan tidak tidur semalaman sambil berjalan-jalan. Biasanya kesempatan ini digunakan muda-mudi untuk berkenalan dan mencari jodoh.
Sayangnya, setiap tahun, hamper selalu ada korban dalam budaya ini. NTB terkini.com, Senin (13/02) merilis satu orang tewas di bukit kaliantan pada malam penangkapan bau nyale tersebut. Dalam hal ini seharusnya pihak berwenang bisrasa nyaman kepada masyarakat dengan melakukan penjagaan yang lebih ketat.
